Dompet Ayah, Sepatu Ibu (2023): Kisah Sederhana tentang Perjuangan Orang Tua yang Sering Terlambat Kita Sadari

 



JAKARTA – Tidak semua warisan orang tua berbentuk rumah, tanah, atau tabungan. Ada yang diwariskan melalui kerja keras, pengorbanan, dan doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan. Gagasan itulah yang diangkat J.S. Khairen dalam novel Dompet Ayah, Sepatu Ibu. Melalui kisah dua anak yang tumbuh dalam keterbatasan, novel ini tidak hanya berbicara tentang kemiskinan, tetapi juga tentang keluarga, pendidikan, dan perjuangan untuk mengubah masa depan. Sejak diterbitkan pada tahun 2023, buku ini menjadi salah satu novel keluarga yang banyak menyentuh hati para pembacanya.

Sinopsis Buku Dompet Ayah, Sepatu Ibu

Novel ini mengisahkan perjalanan hidup Zenna dan Asrul, dua anak yang lahir dari keluarga sederhana di Sumatra Barat. Meski berasal dari latar belakang yang berbeda, keduanya memiliki kesamaan: tumbuh dengan berbagai keterbatasan dan harus berjuang sejak usia yang sangat muda.

Zenna adalah anak keenam dari sebelas bersaudara. Ia harus berjalan jauh menuju sekolah dengan sepatu yang telah usang sambil membawa jagung rebus untuk dijual. Sebelum berangkat sekolah, sang Abak pernah berjanji akan membelikannya sepatu baru ketika memiliki uang. Namun, janji itu tidak pernah sempat ditepati karena sang Abak meninggal dunia. Sejak saat itu, Zenna bertekad mewujudkan sendiri impian yang pernah dijanjikan ayahnya.

Di sisi lain, Asrul tumbuh dalam keluarga yang juga tidak mudah. Bersama ibu dan adiknya, ia harus bertahan hidup setelah ayahnya menikah lagi. Meski hidup serba kekurangan, Asrul tidak pernah berhenti bermimpi untuk memperbaiki kehidupan keluarganya.

Perjalanan hidup keduanya akhirnya dipertemukan oleh pendidikan, yang kemudian menjadi awal dari perjuangan mereka membangun masa depan yang lebih baik.

Ketika Kasih Sayang Tidak Selalu Diucapkan

Hal yang paling menarik dari Dompet Ayah, Sepatu Ibu adalah cara J.S. Khairen menggambarkan cinta orang tua. Tidak banyak kalimat romantis ataupun ungkapan kasih sayang yang berlebihan. Sebaliknya, cinta hadir melalui pengorbanan yang dilakukan setiap hari.

Dompet ayah bukan sekadar tempat menyimpan uang. Ia menjadi simbol kerja keras seorang ayah yang rela melakukan apa saja demi keluarganya. Begitu pula dengan sepatu ibu yang menjadi lambang perjuangan seorang ibu untuk terus melangkah, meskipun hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Melalui simbol-simbol sederhana tersebut, penulis menunjukkan bahwa kasih sayang orang tua sering kali hadir dalam bentuk yang tidak disadari ketika kita masih kecil. Baru ketika dewasa, kita mulai memahami mengapa mereka bekerja begitu keras dan mengapa mereka rela mengorbankan banyak hal demi anak-anaknya.

Lebih dari Sekadar Novel Keluarga

Selain mengangkat hubungan antara orang tua dan anak, novel ini juga menyoroti berbagai persoalan sosial, mulai dari kemiskinan, akses pendidikan, hingga ketimpangan kesempatan hidup. Namun, semua itu disampaikan melalui bahasa yang ringan dan mudah dipahami sehingga pembaca tidak merasa sedang membaca sebuah kritik sosial yang berat.

J.S. Khairen berhasil memperlihatkan bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk mengubah kehidupan, tetapi perjalanan menuju ke sana tidak pernah mudah. Dibutuhkan keberanian, kerja keras, dan dukungan dari orang-orang terdekat untuk tetap bertahan menghadapi berbagai rintangan.

Pengalaman Membaca yang Hangat dan Mengharukan

Salah satu kekuatan utama novel ini adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak adegan sederhana yang justru mampu membangkitkan kenangan tentang keluarga, masa kecil, dan perjuangan orang tua.

Tanpa terasa, pembaca akan ikut tumbuh bersama Zenna dan Asrul, menyaksikan bagaimana mereka jatuh, bangun, dan terus melangkah meskipun hidup berkali-kali menguji keteguhan mereka.

Kesimpulan

Jika Anda menyukai novel bertema keluarga yang penuh kehangatan dan sarat makna, Dompet Ayah, Sepatu Ibu merupakan bacaan yang layak untuk dimiliki. Buku ini tidak hanya menceritakan perjuangan dua anak menggapai cita-cita, tetapi juga mengingatkan bahwa di balik setiap langkah kita hari ini, selalu ada pengorbanan ayah dan ibu yang mungkin belum sempat kita balas.

Pada akhirnya, mungkin yang paling berharga dari seorang ayah bukanlah isi dompetnya, dan yang paling berarti dari seorang ibu bukanlah sepasang sepatunya. Melainkan cinta yang mereka titipkan melalui setiap pengorbanan, agar anak-anaknya dapat melangkah lebih jauh daripada yang pernah mereka capai.

/a.a.widarta