Everyday Sisu (2023) : Belajar Tangguh dari Orang-Orang Paling Bahagia di Dunia

 


JAKARTAFinlandia selama beberapa tahun terakhir konsisten menempati peringkat sebagai negara paling bahagia di dunia. Menariknya, predikat tersebut bukan diperoleh karena cuaca yang hangat atau kehidupan yang serba mudah. Sebaliknya, Finlandia dikenal dengan musim dingin yang panjang, siang yang singkat, serta sejarah yang penuh tantangan. Lantas, apa yang membuat masyarakatnya tetap mampu menjalani hidup dengan bahagia? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Katja Pantzar melalui bukunya Everyday Sisu: Hidup Bahagia dan Ulet ala Orang Finlandia. Buku ini memperkenalkan konsep sisu, sebuah pola pikir yang menjadi salah satu fondasi ketangguhan masyarakat Finlandia dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Mengenal Konsep Sisu

Tidak mudah menerjemahkan kata sisu ke dalam satu kata dalam bahasa Indonesia. Secara sederhana, sisu dapat dipahami sebagai keberanian, keuletan, daya juang, dan kemampuan untuk tetap melangkah meskipun keadaan tidak berjalan sesuai harapan.

Melalui buku ini, Katja Pantzar menjelaskan bahwa sisu bukanlah bakat yang dimiliki sejak lahir. Sebaliknya, pola pikir tersebut dapat dilatih melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Mulai dari berani keluar dari zona nyaman, menikmati alam, membangun hubungan dengan komunitas, hingga belajar menerima hal-hal yang tidak dapat dikendalikan.

Ketangguhan Dibangun dari Kebiasaan Sederhana

Hal yang paling menarik dari Everyday Sisu adalah pendekatan yang digunakan penulis. Buku ini tidak menawarkan motivasi instan ataupun janji bahwa hidup akan selalu terasa mudah. Sebaliknya, Katja Pantzar menunjukkan bahwa ketangguhan lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.

Salah satu contoh yang cukup menarik adalah kebiasaan masyarakat Finlandia beraktivitas di alam terbuka, bahkan ketika cuaca sedang sangat dingin. Bagi mereka, berjalan kaki, bersepeda, atau berenang di air dingin bukan sekadar olahraga, melainkan cara melatih tubuh dan pikiran agar lebih siap menghadapi tekanan kehidupan. Penulis juga menghubungkan kebiasaan tersebut dengan penelitian dan pengalaman para ahli yang menunjukkan bagaimana manusia dapat membangun daya lenting melalui paparan terhadap tantangan yang terukur.

Lebih dari Sekadar Buku Self-Help

Berbeda dengan banyak buku pengembangan diri yang berisi langkah-langkah praktis, Everyday Sisu terasa seperti perpaduan antara memoar, hasil observasi budaya, dan wawancara dengan berbagai pakar. Katja Pantzar banyak menceritakan pengalaman pribadinya beradaptasi dengan kehidupan di Finlandia, kemudian menghubungkannya dengan konsep sisu yang ia temui dalam kehidupan masyarakat setempat.

Karena itulah, buku ini tidak terasa menggurui. Pembaca diajak memahami mengapa masyarakat Finlandia memiliki cara pandang yang berbeda terhadap kegagalan, kesulitan, maupun kebahagiaan. Pesan yang disampaikan pun terasa lebih membumi karena lahir dari pengalaman nyata, bukan sekadar teori.

Refleksi Tentang Kebahagiaan

Salah satu hal yang paling membekas dari buku ini adalah pandangan bahwa kebahagiaan bukan berarti hidup tanpa masalah. Justru, seseorang dapat tetap merasa bahagia karena memiliki kemampuan untuk menghadapi setiap kesulitan yang datang.

Melalui konsep sisu, Katja Pantzar mengajak pembaca untuk berhenti mencari jalan hidup yang paling mudah. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa tantangan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Ketika seseorang belajar menghadapinya sedikit demi sedikit, rasa percaya diri dan ketangguhan akan tumbuh dengan sendirinya.

Kesimpulan

Jika Anda menyukai buku-buku yang membahas kebiasaan hidup, kesehatan mental, dan cara membangun ketangguhan, Everyday Sisu merupakan bacaan yang layak untuk dipertimbangkan. Buku ini tidak menawarkan resep instan untuk menjadi bahagia, melainkan mengajak pembaca memahami bahwa kebahagiaan sering kali lahir dari keberanian menghadapi tantangan sehari-hari.

Pada akhirnya, mungkin yang membuat seseorang mampu bertahan bukan karena hidupnya lebih mudah daripada orang lain. Bisa jadi, ia hanya memiliki keberanian untuk terus melangkah, meskipun langkah itu terasa kecil. Itulah yang oleh masyarakat Finlandia disebut sebagai sisu.

/a.a.widarta