JAKARTA – Menangis ketika sedih,
tersenyum ketika bahagia, atau merasa takut ketika menghadapi bahaya merupakan
respons emosional yang umum dialami manusia. Namun, bagaimana jika seseorang
tidak mampu mengenali perasaan-perasaan tersebut? Apakah ia tetap dapat
memahami arti kasih sayang, persahabatan, dan cinta? Pertanyaan inilah yang
menjadi dasar novel Almond karya Sohn Won-pyung,
penulis asal Korea Selatan yang menghadirkan kisah tentang seorang remaja
dengan kondisi psikologis yang membuatnya kesulitan memahami dan
mengekspresikan emosi. Pertama kali diterbitkan pada tahun 2017, novel ini
berhasil mengangkat persoalan empati dan hubungan antarmanusia melalui cerita
yang sederhana, tetapi penuh makna.
Sinopsis Novel Almond
Novel ini mengisahkan seorang remaja bernama Seon
Yunjae yang terlahir dengan kondisi alexithymia, yaitu
kesulitan mengenali dan mengungkapkan emosi. Dalam cerita, kondisi tersebut
dikaitkan dengan bagian otak bernama amigdala yang bentuknya menyerupai kacang
almond.
Berbeda dengan anak-anak seusianya, Yunjae tidak
mudah menunjukkan rasa takut, sedih, ataupun bahagia. Bahkan ketika menghadapi
situasi yang seharusnya menimbulkan reaksi emosional, ia cenderung menunjukkan
ekspresi yang datar.
Sejak kecil, Yunjae tinggal bersama ibu dan
neneknya yang berusaha membantunya memahami kehidupan sosial. Sang ibu
mengajarkan berbagai ekspresi dan respons yang seharusnya ditunjukkan ketika
berhadapan dengan orang lain. Mulai dari kapan harus tersenyum, mengucapkan
terima kasih, hingga bagaimana bersikap ketika seseorang sedang bersedih.
Namun, kehidupan Yunjae berubah ketika sebuah
peristiwa tragis menimpa keluarganya pada malam Natal. Peristiwa tersebut
membuatnya harus menghadapi kehidupan tanpa perlindungan yang selama ini
diberikan oleh orang-orang terdekatnya.
Di tengah perubahan tersebut, Yunjae bertemu
dengan seorang remaja bernama Gon, sosok yang memiliki
karakter bertolak belakang dengannya. Jika Yunjae kesulitan memahami dan
menunjukkan emosi, Gon justru sering meluapkan perasaannya melalui kemarahan
dan tindakan agresif.
Pertemuan keduanya kemudian menjadi awal dari
sebuah hubungan yang tidak biasa.
Lantas, bagaimana dua orang dengan cara memahami
emosi yang begitu berbeda dapat membangun sebuah persahabatan?
Ketika Tidak Memahami Emosi Dianggap Tidak
Memiliki Perasaan
Hal yang paling menarik dari Almond
adalah bagaimana Sohn Won-pyung menggambarkan kehidupan seseorang yang tidak mampu
merespons emosi sebagaimana orang-orang pada umumnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali
menilai perasaan orang lain berdasarkan ekspresi yang terlihat. Seseorang yang
menangis dianggap sedang bersedih, sementara orang yang tersenyum dianggap
sedang bahagia. Namun, melalui karakter Yunjae, penulis menunjukkan bahwa tidak
semua perasaan dapat dipahami hanya melalui ekspresi wajah.
Karena tidak menunjukkan respons emosional yang
diharapkan, Yunjae kerap dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya. Padahal,
kesulitannya dalam mengenali emosi bukanlah sesuatu yang sengaja ia lakukan.
Melalui konflik tersebut, pembaca diajak memahami
bahwa setiap manusia memiliki cara yang berbeda dalam memproses dan
mengekspresikan perasaan.
Novel ini juga memperlihatkan bagaimana
masyarakat sering kali menuntut seseorang untuk bersikap sesuai dengan standar
yang dianggap normal, tanpa terlebih dahulu berusaha memahami kondisi yang
sebenarnya dialami orang tersebut.
Dua Karakter dengan Cara Menghadapi Emosi yang
Berbeda
Salah satu kekuatan utama novel ini adalah
hubungan antara Yunjae dan Gon.
Keduanya memiliki latar belakang dan karakter
yang sangat berbeda. Yunjae cenderung tenang, sulit menunjukkan perasaan, dan
tidak mudah memahami reaksi emosional orang lain. Sebaliknya, Gon merupakan
sosok yang penuh kemarahan dan memiliki kesulitan dalam mengendalikan emosinya.
Menariknya, meskipun memiliki karakter yang
bertolak belakang, keduanya justru memperlihatkan kesamaan yang tidak langsung
terlihat.
Baik Yunjae maupun Gon sama-sama mengalami
kesulitan untuk dipahami oleh lingkungan sekitarnya.
Melalui hubungan tersebut, Sohn Won-pyung
menunjukkan bahwa seseorang yang terlihat tidak memiliki perasaan belum tentu
tidak mampu peduli kepada orang lain. Begitu pula dengan seseorang yang sering
menunjukkan kemarahan, belum tentu tidak membutuhkan kasih sayang.
Seiring berjalannya cerita, hubungan keduanya
perlahan berkembang dan memberikan pengaruh terhadap cara mereka memahami diri
sendiri maupun orang lain.
Memahami Empati dari Sudut Pandang yang Berbeda
Selain membahas kondisi psikologis, Almond
juga mengajak pembaca mempertanyakan kembali makna empati.
Selama ini, empati sering dipahami sebagai
kemampuan seseorang untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Namun,
apakah seseorang yang kesulitan mengenali emosi berarti tidak mampu menunjukkan
kepedulian?
Melalui perjalanan Yunjae, penulis memperlihatkan
bahwa memahami orang lain tidak selalu harus dimulai dari kemampuan merasakan
emosi yang sama.
Terkadang, kepedulian dapat ditunjukkan melalui
tindakan sederhana, seperti bersedia mendengarkan, membantu, atau tetap berada
di sisi seseorang ketika orang lain memilih menjauh.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan menarik
dari novel ini. Bahwa manusia tidak selalu harus memiliki cara berpikir dan
merasakan yang sama untuk dapat membangun hubungan yang berarti.
Pengalaman Membaca yang Sederhana tetapi
Mengharukan
Berbeda dengan novel yang mengandalkan konflik
rumit dan berbagai kejutan, Almond memiliki alur cerita yang
relatif sederhana. Namun, justru kesederhanaan tersebut menjadi salah satu daya
tariknya.
Sohn Won-pyung menggunakan sudut pandang Yunjae
untuk membawa pembaca memahami berbagai peristiwa melalui seseorang yang kesulitan
mengenali emosinya sendiri.
Cara bercerita tersebut menciptakan pengalaman
membaca yang cukup unik. Ketika Yunjae menggambarkan sebuah peristiwa dengan
tenang, pembaca justru dapat merasakan kesedihan, kemarahan, atau ketegangan
yang tidak mampu ia ungkapkan.
Selain itu, hubungan antara Yunjae, ibu, nenek,
dan orang-orang yang ditemuinya sepanjang cerita memberikan gambaran tentang
bagaimana kasih sayang dan penerimaan dapat memengaruhi perkembangan seseorang.
Novel ini bukan hanya bercerita tentang seorang
remaja dengan kondisi yang berbeda, tetapi juga tentang bagaimana manusia
belajar memahami satu sama lain.
Kesimpulan
Jika Anda menyukai novel yang mengangkat tema
psikologi, persahabatan, dan hubungan antarmanusia, Almond
merupakan salah satu bacaan yang layak dipertimbangkan. Melalui karakter Yunjae
dan Gon, Sohn Won-pyung berhasil menghadirkan cerita yang mengajak pembaca
memahami bahwa tidak semua orang mampu mengekspresikan perasaannya dengan cara
yang sama.
Novel ini juga mengingatkan bahwa memahami
seseorang tidak cukup hanya dengan melihat bagaimana ia berbicara, bereaksi,
ataupun menunjukkan emosinya. Ada banyak hal yang mungkin tidak kita ketahui
tentang kehidupan dan perjuangan orang lain.
Pada akhirnya, mungkin yang perlu dipertanyakan
bukanlah mengapa seseorang tidak mampu menunjukkan perasaan seperti orang-orang
pada umumnya. Melainkan mengapa kita begitu mudah menganggap seseorang tidak
memiliki empati, hanya karena ia tidak mampu mengekspresikannya dengan cara
yang kita pahami.
Karena terkadang, orang yang paling kesulitan
memahami perasaan justru menjadi alasan bagi orang lain untuk belajar tentang
arti kepedulian.
/a.a.widarta
