Almond (2022): Ketika Seseorang Tidak Mampu Memahami Perasaan, Siapa yang Sebenarnya Tidak Memiliki Empati?

 


JAKARTA – Menangis ketika sedih, tersenyum ketika bahagia, atau merasa takut ketika menghadapi bahaya merupakan respons emosional yang umum dialami manusia. Namun, bagaimana jika seseorang tidak mampu mengenali perasaan-perasaan tersebut? Apakah ia tetap dapat memahami arti kasih sayang, persahabatan, dan cinta? Pertanyaan inilah yang menjadi dasar novel Almond karya Sohn Won-pyung, penulis asal Korea Selatan yang menghadirkan kisah tentang seorang remaja dengan kondisi psikologis yang membuatnya kesulitan memahami dan mengekspresikan emosi. Pertama kali diterbitkan pada tahun 2017, novel ini berhasil mengangkat persoalan empati dan hubungan antarmanusia melalui cerita yang sederhana, tetapi penuh makna.


Sinopsis Novel Almond

Novel ini mengisahkan seorang remaja bernama Seon Yunjae yang terlahir dengan kondisi alexithymia, yaitu kesulitan mengenali dan mengungkapkan emosi. Dalam cerita, kondisi tersebut dikaitkan dengan bagian otak bernama amigdala yang bentuknya menyerupai kacang almond.

Berbeda dengan anak-anak seusianya, Yunjae tidak mudah menunjukkan rasa takut, sedih, ataupun bahagia. Bahkan ketika menghadapi situasi yang seharusnya menimbulkan reaksi emosional, ia cenderung menunjukkan ekspresi yang datar.

Sejak kecil, Yunjae tinggal bersama ibu dan neneknya yang berusaha membantunya memahami kehidupan sosial. Sang ibu mengajarkan berbagai ekspresi dan respons yang seharusnya ditunjukkan ketika berhadapan dengan orang lain. Mulai dari kapan harus tersenyum, mengucapkan terima kasih, hingga bagaimana bersikap ketika seseorang sedang bersedih.

Namun, kehidupan Yunjae berubah ketika sebuah peristiwa tragis menimpa keluarganya pada malam Natal. Peristiwa tersebut membuatnya harus menghadapi kehidupan tanpa perlindungan yang selama ini diberikan oleh orang-orang terdekatnya.

Di tengah perubahan tersebut, Yunjae bertemu dengan seorang remaja bernama Gon, sosok yang memiliki karakter bertolak belakang dengannya. Jika Yunjae kesulitan memahami dan menunjukkan emosi, Gon justru sering meluapkan perasaannya melalui kemarahan dan tindakan agresif.

Pertemuan keduanya kemudian menjadi awal dari sebuah hubungan yang tidak biasa.

Lantas, bagaimana dua orang dengan cara memahami emosi yang begitu berbeda dapat membangun sebuah persahabatan?


Ketika Tidak Memahami Emosi Dianggap Tidak Memiliki Perasaan

Hal yang paling menarik dari Almond adalah bagaimana Sohn Won-pyung menggambarkan kehidupan seseorang yang tidak mampu merespons emosi sebagaimana orang-orang pada umumnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali menilai perasaan orang lain berdasarkan ekspresi yang terlihat. Seseorang yang menangis dianggap sedang bersedih, sementara orang yang tersenyum dianggap sedang bahagia. Namun, melalui karakter Yunjae, penulis menunjukkan bahwa tidak semua perasaan dapat dipahami hanya melalui ekspresi wajah.

Karena tidak menunjukkan respons emosional yang diharapkan, Yunjae kerap dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya. Padahal, kesulitannya dalam mengenali emosi bukanlah sesuatu yang sengaja ia lakukan.

Melalui konflik tersebut, pembaca diajak memahami bahwa setiap manusia memiliki cara yang berbeda dalam memproses dan mengekspresikan perasaan.

Novel ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat sering kali menuntut seseorang untuk bersikap sesuai dengan standar yang dianggap normal, tanpa terlebih dahulu berusaha memahami kondisi yang sebenarnya dialami orang tersebut.


Dua Karakter dengan Cara Menghadapi Emosi yang Berbeda

Salah satu kekuatan utama novel ini adalah hubungan antara Yunjae dan Gon.

Keduanya memiliki latar belakang dan karakter yang sangat berbeda. Yunjae cenderung tenang, sulit menunjukkan perasaan, dan tidak mudah memahami reaksi emosional orang lain. Sebaliknya, Gon merupakan sosok yang penuh kemarahan dan memiliki kesulitan dalam mengendalikan emosinya.

Menariknya, meskipun memiliki karakter yang bertolak belakang, keduanya justru memperlihatkan kesamaan yang tidak langsung terlihat.

Baik Yunjae maupun Gon sama-sama mengalami kesulitan untuk dipahami oleh lingkungan sekitarnya.

Melalui hubungan tersebut, Sohn Won-pyung menunjukkan bahwa seseorang yang terlihat tidak memiliki perasaan belum tentu tidak mampu peduli kepada orang lain. Begitu pula dengan seseorang yang sering menunjukkan kemarahan, belum tentu tidak membutuhkan kasih sayang.

Seiring berjalannya cerita, hubungan keduanya perlahan berkembang dan memberikan pengaruh terhadap cara mereka memahami diri sendiri maupun orang lain.


Memahami Empati dari Sudut Pandang yang Berbeda

Selain membahas kondisi psikologis, Almond juga mengajak pembaca mempertanyakan kembali makna empati.

Selama ini, empati sering dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Namun, apakah seseorang yang kesulitan mengenali emosi berarti tidak mampu menunjukkan kepedulian?

Melalui perjalanan Yunjae, penulis memperlihatkan bahwa memahami orang lain tidak selalu harus dimulai dari kemampuan merasakan emosi yang sama.

Terkadang, kepedulian dapat ditunjukkan melalui tindakan sederhana, seperti bersedia mendengarkan, membantu, atau tetap berada di sisi seseorang ketika orang lain memilih menjauh.

Hal tersebut menjadi salah satu pesan menarik dari novel ini. Bahwa manusia tidak selalu harus memiliki cara berpikir dan merasakan yang sama untuk dapat membangun hubungan yang berarti.


Pengalaman Membaca yang Sederhana tetapi Mengharukan

Berbeda dengan novel yang mengandalkan konflik rumit dan berbagai kejutan, Almond memiliki alur cerita yang relatif sederhana. Namun, justru kesederhanaan tersebut menjadi salah satu daya tariknya.

Sohn Won-pyung menggunakan sudut pandang Yunjae untuk membawa pembaca memahami berbagai peristiwa melalui seseorang yang kesulitan mengenali emosinya sendiri.

Cara bercerita tersebut menciptakan pengalaman membaca yang cukup unik. Ketika Yunjae menggambarkan sebuah peristiwa dengan tenang, pembaca justru dapat merasakan kesedihan, kemarahan, atau ketegangan yang tidak mampu ia ungkapkan.

Selain itu, hubungan antara Yunjae, ibu, nenek, dan orang-orang yang ditemuinya sepanjang cerita memberikan gambaran tentang bagaimana kasih sayang dan penerimaan dapat memengaruhi perkembangan seseorang.

Novel ini bukan hanya bercerita tentang seorang remaja dengan kondisi yang berbeda, tetapi juga tentang bagaimana manusia belajar memahami satu sama lain.


Kesimpulan

Jika Anda menyukai novel yang mengangkat tema psikologi, persahabatan, dan hubungan antarmanusia, Almond merupakan salah satu bacaan yang layak dipertimbangkan. Melalui karakter Yunjae dan Gon, Sohn Won-pyung berhasil menghadirkan cerita yang mengajak pembaca memahami bahwa tidak semua orang mampu mengekspresikan perasaannya dengan cara yang sama.

Novel ini juga mengingatkan bahwa memahami seseorang tidak cukup hanya dengan melihat bagaimana ia berbicara, bereaksi, ataupun menunjukkan emosinya. Ada banyak hal yang mungkin tidak kita ketahui tentang kehidupan dan perjuangan orang lain.

Pada akhirnya, mungkin yang perlu dipertanyakan bukanlah mengapa seseorang tidak mampu menunjukkan perasaan seperti orang-orang pada umumnya. Melainkan mengapa kita begitu mudah menganggap seseorang tidak memiliki empati, hanya karena ia tidak mampu mengekspresikannya dengan cara yang kita pahami.

Karena terkadang, orang yang paling kesulitan memahami perasaan justru menjadi alasan bagi orang lain untuk belajar tentang arti kepedulian.

/a.a.widarta